Selamat Tinggal…..

“Ketika asa tak kunjung menjadi nyata jangan pernah berhenti karena kau tak tahu yang terjadi esok atau lusa”  Wahai adam, mungkin sekaranglah waktunya untuk mengucapkan selamat tinggal kepada mimpi-mimpi yang selama ini menemani tidurku yang kurasa sudah terlalu panjang. Matahari sudah hampir menyinari dunia, tidakkah kau lihat, bahwa bintang-bintang perlahan kembali ke peraduan dan rembulan pun tidak lagi berada di singgasananya? Aku harus bangun dan berdiri, memulai kembali segala perjuanganku yang belum selesai…

Sudah tiba waktunya untukku berdiri sendiri, melawan angin yang kadang menjadi topan namun  terkadang juga menyejukkan, melawan ombak yang kadang menjadi badai namun terkadang juga membantuku meringankan laju kapalku. Aku harus segera menentukan kemana kapalku harus melaju dan dimana akhirnya aku harus singgah. Tak selamanya aku bisa bermain-main dengan ombak dan angin yang selama ini kuikuti kemenapun mereka pergi.  Layarku harus terkembang, dan haluanku harus jelas berfungsi, agar aku bisa segera merapat disana, dimana aku seharusnya berada.

Seperti halnya hujan yang datang menyiram bumi, menyuburkan tanah, sehingga membuat rumput, semak dan ilalang tumbuh subur walau kita tak menanamnya. Sudah waktunya bagiku untuk  membersihkan ladang hatiku yang saat ini dipenuhi rerumputan dan ilalang, dan kemudian menanaminya dengan mawar, biar semerbak harum dan indahnya menghiasi hatiku, walau dia berduri. Tapi aku yakin, dia takkan melukai aku, tak seperti semak dan ilalang yang kadang durinya menggoreskan luka di hati.

Wahai adam, maafkan aku jika aku harus meninggalkanmu. Serpihan mimpi ini pun harus kubuang, karena aku tak sanggup lagi untuk menyimpannya. Tahukah engkau betapa sering aku terluka ketika keping-keping mimpi yang ternyata tajam dan runcing itu menusuk di hatiku? Tentu saja kau tidak akan pernah tahu, karena aku tak pernah menunjukkan kepadamu semua luka itu dan kau pun tak pernah mau tahu tentang luka itu. Bagiku itu bukanlah masalah, biarlah aku sendiri yang merasakan perih dan sakitnya tertusuk kepingan mimpiku tentangmu, tentang kita. Karena itu adalah mimpiku, bukan mimpimu. Dan kau tak pernah memimpikannya, membayangkannya
pun tidak akan.

Wahai adam, ini bukan yang pertama kalinya aku ingin mengucapkan selamat tinggal padamu, pada mimpiku. Aku tak tahu betapa sulitnya melepaskan diri dari bayangmu, melupakan senyummu, dan meninggalkan semua kenangan kita. Tapi aku harus mencoba dan terus berusaha, karena aku tak mungkin menyiksa diriku dengan semua mimpi yang tak akan pernah menjadi nyata. Biar saja aku merasa sepi, biarkan saja aku merasa hampa, aku terima, jika memang harus demikian untuk melepaskan semua mimpi-mimpi itu. Karena itu memang yang terbaik untukku.

Wahai adam, entah apa yang dapat kuucapkan lagi selain terima kasih, jika ada yang bisa lebih dari itu aku akan mengucapkannya kepadamu. Terima kasih buat semua yang pernah terjadi antara kita. Semua tawa, semua canda, semua tangis, semua marah, semua benci, semua kisah yang pernah kita lalui bersama. Aku tak akan mengingkari bahwa dirimu pernah mengisi sebagian dari hatiku, dan berperan dalam menjadikan aku seperti yang sekarang ini. Terima kasih buat semua itu…

Aku yang selalu mencintaimu….

~ oleh tyas di/pada April 27, 2008.

Tinggalkan Balasan