Hari Ini, 11 Mei 2008

•Mei 11, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

Pagi ini… pukul 06.00 Wib dia udah dateng kekostanku, niatnya sich mo kepantai tapi gimana lagi dari pada ntik kesiangan akhirnya aku cuma duduk2 aja diruang tamu.. aku buatin dia secangkir susu dan kubawakan roti untuk sarapan dia, kasian dia pasti terlalu capek, seandainya ku bisa bantu kerja dia pasti kubantu jadi dia ga perlu dari pagi sampai malam kerja.

Dia tiduran, dan pagi ini aku baru denger kalau dia bilng kalo dia sayang aku, Tuhan benarkah yang kudengar ini,??? kata-kata itu sebenarnya yang kuharapkan selama ini keluar dari bibirnya…..
8 Bulan aku menanti kata-kata itu dan baru kali ini keluar dari mulutnya….

Kutanya tentang hubungannya dengan wanita sebrang sana
” GImana hubungan mas dengan dia?”
dia jawab ” Paling cuma sms-an aja, dan aku juga udah bilang tentang kamu ke dia…”

Aku sedikit lega dan kutanya lagi ” Terus gimana respon dia?”
Dan dia juga jawab ” Yang penting aku udah cerita tentang kamu , aku ga tau dia gimana…”
Dari kata-katanya benarkah dia jujur, aku ragu apakah dia bener udah ga ada hubungan lagi dengan wanita sebrang itu?

TUhan Mudah2an apa yang keluar dari bibirnya itu benar2 tulus dari hatinya…
Mudah2an penantian panjangku selama ini Happy Ending….

Yang jelas hari ini aku sedikit punya harapan untuk bisa menyayanginya dengan tulus

terima kasih untuk hari ini

Hidayah Allah Selalau Datang

•April 27, 2008 • 1 Komentar

seorang wanita muda berusia 28 tahun. Kilatan hidayah mendatanginya sementara dirinya tenggelam dalam dunia popularitas, glamour, gemerlap dan kerusakan. Diam-diam ia pergi menjauh. Meninggalkan dunia tersebut dengan segala godaan yang ada padanya dan pergi menuju Afghanistan di tengah-tengah situasi yang keras dan kehidupan yang sulit. Dialah Fabienne, seorang peragawati perancis, yang mengatakan:

“Andai bukan karena karunia dan kasih sayang Allah kepada diriku, niscaya hidupku akan hilang dalam dunia dimana manusia mengalami dekadensi moral dan berubah menjadi hewan tulen. Seluruh obsesinya hanyalah memenuhi hasrat dan nalurinya tanpa ada norma-norma dan prinsip-prinsip. “Kali ini kita akan menemui Fabienne dan bertanya kepadanya tentang impian, cita-cita , kepedihan dan kehidupan Islamnya yang baru, serta titik perpindahan dan perubahan dalam hidupnya.

Ia menuturkan, “ Sejak kecil aku selalu memimpikan menjadi perawat sukarela, berbuat untuk meringankan rasa sakit anak-anak yang tertimpa penyakit. Seiring berlalunya hari-hari, aku tumbuh dewasa dan dengan kecantikan dan kemolekanku aku banyak menarik perhatian. Semua orang menganjurkanku-termasuk keluargaku- untuk melupakan impian masa kecilku dan memanfaatkan kecantikanku dalam satu profesi yang bisa mendatangkan keuntungan materi yang banyak, popularitas dan ketenaran, serta segala hal yang mungkin diimpikan oleh setiap remaja putri. Kemudian ia melakukan perbuatan yang tidak masuk akal demi meraihnya. Jalan dihadapanku mudah -atau inilah yang aku rasakan-. Begitu cepat aku merasakan popularitas, dan hadiah-hadiah mahal yang aku tidak pernah bermimpi dapat mengumpulkanya kini membanjiri diriku. Namun semua itu harus ditebus dengan harga mahal. Pertama aku harus melepaskan sisi kemanusiaanku . Sebagai syarat kesuksesan dan ketenaran, aku harus kehilangan kepekaan dan perasaanku, menanggalkan rasa malu yang aku tumbuh padanya. Dan kehilangan kecerdasanku serta tidak berusaha untuk memahami apapun selain lenggak-lenggok tubuhku dan semua irama musik. Begitu juga, aku mesti menghindari makanan-makanan yang lezat dan hidup bergantung pada vitamin-vitamin kimia, suplemen dan penyegar. Sebelum itu semua aku harus kehilangan emosiku terhadap manusia, aku tidak boleh benci, tidak boleh suka dan tidak boleh menolak apapun. Disinilah aku merasa bahwa kehidupan ini menjijikkan, hina dan tidak berguna. Aku berseberangan dengan sifat kemanusiaan, dimana kehidupan tersebut lebih dekat pada kehidupan hewan tak berakal.

Rumah-rumah mode telah memanfaatkan diriku sebagai patung bergerak. Tugasnya hanya mempermainkan hati dan pikiran. Sebab disana aku belajar bagaimana menjadi dingin, keras hati, terperdaya dan hampa jiwaku. Aku hanya menjadi kerangka yang mengenakan baju. Aku benda mati yang bisa bergerak dan tersenyum, namun tidak merasakan apa-apa. Bukan aku saja yang dituntut seperti itu. Bahkan semakin mahir dan mencolok seorang model dalam melepaskan sisi kemanusiaannya, maka akan semakin tinggi prestasinya di dunia yang ”dingin” ini.

Sebentar ia menarik nafasnya, kemudian melanjutkan ceritanya. “ Adapun jika aku melanggar satu saja peraturan rumah mode, maka ini berarti menghadapkan diriku pada beragam sangsi, termasuk didalamnya hukuman psikis dan juga tubuh. Aku hidup mengelilingi dunia memperagakan mode-mode busana yang paling baru dengan segala yang ada padanya, berupa mempertontonkan kecantikan, tipuan dan memenuhi ambisi setan dalam menampakkan lekuk-lekuk tubuh wanita tanpa ada rasa malu dan sungkan!

Aku tidak pernah merasakan indahnya busana pada tubuhku yang hampa selain dari hawa nafsu dan kerasnya hati. Manakala aku merasakan cemoohan para penonton dan ejekan mereka atas kepribadianku serta penghormatan mereka terhadap apa yang aku pakai, sebagaimana saat aku berjalan, berlenggak-lenggok, maka pada setiap ritme gerakanku selalu diiringi kata ‘seandainya’. Setelah masuk Islam, aku tahu bahwa kata ‘seandainya’ membuka peluang perbuatan setan. Hal itu memang benar. Kami dahulu hidup dalam dunia kehinaan, jauh sekali terperosok kedalamnya. Maka celakalah orang yang menjerumuskan diri ke dalamnya dan berusaha untuk melakukan hal tersebut.

Perubahanku terjadi di tengah perjalanan kami ke Beiru. Dimana aku melihat penduduk disana membangun hotel dan rumah mereka kembali di bawah kejamnya alat-alat perang. Dengan kedua mataku sendiri aku menyaksikan rumah sakit anak-anak di Beirut. Aku tidak sendiri, tapi bersama teman-temanku dari kalangan ‘patung manusia’! Mereka sekedar melihat tanpa bersimpati seperti kebiasaan mereka. Aku tidak mampu bersikap seperti mereka dalam hal itu. Sungguh, saat itu lenyaplah belenggu popularitas, kemuliaan dan kehidupan palsu yang aku alami dari mataku. Serta merta aku menuju ke tubuh anak-anak kecil itu dalam suatu usaha menyelamatkan yang masih hidup dari mereka, dan aku tidak kembali kepada teman-temanku di hotel, di mana ketenaran sedang menungguku. Aku memulai perjalananku menuju kemanusiaan hingga aku sampai pada jalan cahaya, itulah Islam, lalu aku meninggalkan Beirut.

Bersama Kaum Muslimin Afghanistan dan Pakistan.

Aku menjalani kehidupanku yang sebenarnya, belajar menjadi seorang manusia. Delapan bulan sudah keberadaanku membantu dan melindungi keluarga-keluarga yang menderita akibat peperangan. Aku senang hidup bersama mereka, sehingga mereka pun memperlakukanku dengan baik. Keyakinanku terhadap Islam sebagai agama pedoman hidup semakin bertambah selama menjalaninya dan kehidupanku bersama keluarga-keluarga Afghan dan Pakistan serta gaya hidup keseharian mereka yang teratur. Kemudian aku mulai mempelajari bahasa Arab, bahasa Al-Qur’an. Sungguh aku telah memperoleh kemajuan berarti dalam hal itu. Jadi, setelah aku mengadopsi aturan hidupku dari para perancang mode di dunia, kini hidupku berjalan mengikuti prinsip-prinsip Islam yang agung.

Aku menghadapi tekanan duniawi bertubi-tubi dari rumah-rumah mode internasional di Beirut. Mereka mengirim tawaran-tawaran kepadaku dengan melipatgandakan bayaran bulananku sampai tiga kali lipat, namun aku menolaknya dengan tegas. Mereka tidak punya jalan lain kecuali mengirimkan hadiah-hadiah yang mahal untukku agar aku mencabut sikapku dan keluar dari islam. Kemudian mereka berhenti merayuku untuk kembali dan berusaha mencoreng citraku di hadapan keluarga-keluarga Afghan. Mereka menyebarkan cover-cover majalah yang memuat foto-fotoku dulu ketika berprofesi sebagai peragawati dan menempelkannya di jalan-jalan. Seolah-oleh mereka balas dendam karena taubatku dan berupaya menimbulkan ketegangan antara diriku dan keluarga baruku. Tetapi, alhamdulillah, dugaan mereka salah.

Sungguh aku menyesali hari-hari yang telah berlalu itu, ketika sekarang aku merasakan kehormatan dan kemanusiaan diriku, serta bahwa aku seorang manusia yang mulia lagi terhormat , yang mempunyai kedudukan dan harga diri. Tetapi disana, di Barat, semua itu tersia-siakan. Aduhai, betapa indahnya Islam, andaikata bangasaku mengetahuinya…!! (Salah satu kisah dari buku “Akhirnya Mereka Lari Dari Neraka -karya Kholid Abu Sholih-. Penerbit WIP)

 

Ibu Penjagaku…..

•April 27, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

Di kala resah ini kian mendesah dan menggalaukan jiwaku
Kau ada di sana …
Di saat aku terluka
hingga akhirnya…tercabik-cabiklah keteguhan hatiku
Kau masih ada di sana…

Ketika aku lelah dan semangatku patah untuk meneruskan perjuangan,
terhenti oleh kerikil –kerikil yang kurasa terlampau tajam
hingga akhirnya aku pun memilih jeda!!!
Kau tetap ada di sana…
memberiku isyarat untuk tetap bertahan

Ibu…kau basuh kesedihanku, kehampaanku dan ketidakberdayaanku
“Tiada lain kita hanya insan Sang Kuasa,
Memiliki tugas di bumi tuk menegakkan kalimatNya
Kita adalah jasad, jiwa, dan ruh yang terpadu
Untuk memberi arti bagi diri dan yang lain”
Kata-katamu laksana embun di padang gersang nuraniku
memberiku setitik cahaya dalam kekalutan berfikirku
Kau labuhkan hatimu untukku, dengan tulus tak berpamrih

Kusandarkan diriku di bahumu
Terasa…kelembutanmu menembus dinding-dinding kalbuku
Menghancurleburkan segala keangkuhan diri
Meluluhkan semua kelelahan dan beban dunia
Dan membiarkannya tenang terhanyut bersama kedalaman hatimu

Kutatap perlahan…
matamu yang membiaskan ketegaran dan perlindungan
Kristal-kristal lembut yang sedang bermain di bola matamu,
jatuh…setetes demi setetes
Kau biarkan ia menari di atas kain kerudungmu
Laksana oase di
terik panasnya gurun sahara

Ibu…
Nasihatmu memberi kekuatan untukku
rangkulanmu menjadi penyangga kerapuhanku
untuk ,menapaki hari-hari penuh liku
…semoga semua itu tak akan pernah layu!

Ibu…
Dalam kelembutan cintamu, kulihat kekuatan
dalam tangis air matamu, kulihat semangat menggelora
dalam dirimu, terkumpul seluruh daya dunia!

Ibu…

•April 27, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

Hanya kepadamu Ibu
Aku bersimpuh
Dan hanya kepadamulah
Aku mengadukan tentang perasaanku

Ibu, engkau bagaikan berlian
Yang tidak akan pernah hilang
Dan kasih sayangmu cantik nan
Bagaikan matahari yang tidak akan pernah hilang

mang benar Surga ada di telapak kakimu Ibu
Karena engkau telah mengandung aku
Selama sembilan bulan lamanya
Menahan rasa sakit dan berjuang dengan sekuat tenaga

Betapa luhur perjuanganmu Ibu
Engkau telah merawat dan menjadikan aku
Sampai aku besar dan
Merasakan indah hidup ini dan

Aku tidak tahu harus bagaimana
Caranya aku membalas semua budi baikmu
Dan mungkin engkau akan berkata
Aku menginginkan anakku menjadi anak yang berbakti pada
Orang tua dan juga taat pada perintah agama

Ibu terima kasih atas semua
Jasa dan juga budi baikmu, Ibu
Aku tidak akan melupakanmu
Sampai akhir ayatku nanti

Ibu…IBu…Ibu I LOVE YOU

•April 27, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

Ibu…
adalah wanita yang telah melahirkanku
merawatku
membesarkanku
mendidikku
hingga diriku telah dewasa

Ibu…
adalah wanita yang selalu siaga tatkala aku dalam buaian
tatkala kaki-kakiku belum kuat untuk berdiri
tatkala perutku terasa lapar dan haus
tatkala kuterbangun di waktu pagi, siang dan malam

Ibu…
adalah wanita yang penuh perhatian
bila aku sakit
bila aku terjatuh
bila aku menangis
bila aku kesepian

Ibu…
telah kupandang wajahmu diwaktu tidur
terdapat sinar yang penuh dengan keridhoan
terdapat sinar yang penuh dengan kesabaran
terdapat sinar yang penuh dengan kasih dan sayang
terdapat sinar kelelahan karena aku

Aku yang selalu merepotkanmu
aku yang selalu menyita perhatianmu
aku yang telah menghabiskan air susumu
aku yang selalu menyusahkanmu hingga muncul tangismu

Ibu…
engkau menangis karena aku
engkau sedih karena aku
engkau menderita karena aku
engkau kurus karena aku
engkau korbankan segalanya untuk aku

Ibu…
jasamu tiada terbalas
jasamu tiada terbeli
jasamu tiada akhir
jasamu tiada tara
jasamu terlukis indah di dalam surga

Ibu…
hanya do’a yang bisa kupersembahkan untukmu
karena jasamu
tiada terbalas

Hanya tangisku sebagai saksi
atas rasa cintaku padamu

Ibu…, I LOVE YOU SO MUCH
juga kepada Ayah…!!!

Ketika cinta bertepuk sebelah tangan

•April 27, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

> Hatiku sakit…
> Perasaanku gundah
> Pikiranku kacau
> Semua yang aku takutkan akhirnya terjadi
>
> Ingin aku menangis
> Karena kenyataan terbalik dari harapanku
> Ingin aku membencimu
> Karena hati dan pikiranmu tak sedikitpun padaku
>
> Aku ingin menangis
> Karena pikiranmu tak sedetikpun padaku
> Aku tak bisa membencimu karena kepedihanku melampaui batas
> Aku tak bisa membencimu karena kebencianku telah melampaui batas
>
> Semua kata yang tak terucap
> Sudah usai ditelan waktu
> Sampai disini saja

Selamat Tinggal…..

•April 27, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

“Ketika asa tak kunjung menjadi nyata jangan pernah berhenti karena kau tak tahu yang terjadi esok atau lusa”  Wahai adam, mungkin sekaranglah waktunya untuk mengucapkan selamat tinggal kepada mimpi-mimpi yang selama ini menemani tidurku yang kurasa sudah terlalu panjang. Matahari sudah hampir menyinari dunia, tidakkah kau lihat, bahwa bintang-bintang perlahan kembali ke peraduan dan rembulan pun tidak lagi berada di singgasananya? Aku harus bangun dan berdiri, memulai kembali segala perjuanganku yang belum selesai…

Sudah tiba waktunya untukku berdiri sendiri, melawan angin yang kadang menjadi topan namun  terkadang juga menyejukkan, melawan ombak yang kadang menjadi badai namun terkadang juga membantuku meringankan laju kapalku. Aku harus segera menentukan kemana kapalku harus melaju dan dimana akhirnya aku harus singgah. Tak selamanya aku bisa bermain-main dengan ombak dan angin yang selama ini kuikuti kemenapun mereka pergi.  Layarku harus terkembang, dan haluanku harus jelas berfungsi, agar aku bisa segera merapat disana, dimana aku seharusnya berada.

Seperti halnya hujan yang datang menyiram bumi, menyuburkan tanah, sehingga membuat rumput, semak dan ilalang tumbuh subur walau kita tak menanamnya. Sudah waktunya bagiku untuk  membersihkan ladang hatiku yang saat ini dipenuhi rerumputan dan ilalang, dan kemudian menanaminya dengan mawar, biar semerbak harum dan indahnya menghiasi hatiku, walau dia berduri. Tapi aku yakin, dia takkan melukai aku, tak seperti semak dan ilalang yang kadang durinya menggoreskan luka di hati.

Wahai adam, maafkan aku jika aku harus meninggalkanmu. Serpihan mimpi ini pun harus kubuang, karena aku tak sanggup lagi untuk menyimpannya. Tahukah engkau betapa sering aku terluka ketika keping-keping mimpi yang ternyata tajam dan runcing itu menusuk di hatiku? Tentu saja kau tidak akan pernah tahu, karena aku tak pernah menunjukkan kepadamu semua luka itu dan kau pun tak pernah mau tahu tentang luka itu. Bagiku itu bukanlah masalah, biarlah aku sendiri yang merasakan perih dan sakitnya tertusuk kepingan mimpiku tentangmu, tentang kita. Karena itu adalah mimpiku, bukan mimpimu. Dan kau tak pernah memimpikannya, membayangkannya
pun tidak akan.

Wahai adam, ini bukan yang pertama kalinya aku ingin mengucapkan selamat tinggal padamu, pada mimpiku. Aku tak tahu betapa sulitnya melepaskan diri dari bayangmu, melupakan senyummu, dan meninggalkan semua kenangan kita. Tapi aku harus mencoba dan terus berusaha, karena aku tak mungkin menyiksa diriku dengan semua mimpi yang tak akan pernah menjadi nyata. Biar saja aku merasa sepi, biarkan saja aku merasa hampa, aku terima, jika memang harus demikian untuk melepaskan semua mimpi-mimpi itu. Karena itu memang yang terbaik untukku.

Wahai adam, entah apa yang dapat kuucapkan lagi selain terima kasih, jika ada yang bisa lebih dari itu aku akan mengucapkannya kepadamu. Terima kasih buat semua yang pernah terjadi antara kita. Semua tawa, semua canda, semua tangis, semua marah, semua benci, semua kisah yang pernah kita lalui bersama. Aku tak akan mengingkari bahwa dirimu pernah mengisi sebagian dari hatiku, dan berperan dalam menjadikan aku seperti yang sekarang ini. Terima kasih buat semua itu…

Aku yang selalu mencintaimu….

Jujur Ga Sich Do’i?

•April 26, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

Mungkin kamu enggak tau tau kalo doi sedang bohong di ujung telepon atau membual dalam surat cintanya. Kalo kepengen tau apa doi bicara jujur atau bohong, sebaiknya kamu mengajaknya untuk berhadapan langsung.

Sekalipun terucap dari bibirnya kata-kata “mutiara”, tak jarang bahasa tubuhnya (secara mendadak) membelot dari kalimat yang mengalir lewat bibirnya. Akibatnya? Ketahuan, deh, kalo doi sedang bokis.

Coba perhatikan beberapa bagian tubuhnya, kalau ada yang “menyimpang” dari yang seharusnya, maka bisa dipastikan bahwa doi sedang berusaha berbohong sama kamu:

Sikap dan gerak kaki. Orang yang sedang berusaha bohong, biasanya (dengan refleks) akan menyilangkan tungkai kaki secara simultan. Konon, cara ini adalah bentuk pembelaan diri seseorang dari kemungkinan yang bakal menyerangnya.

Orang yang sedang berusaha berdusta, biasanya juga tak bisa diam. Dia akan menggerakan kakinya ke kanan-ke kiri. Hal ini disebabkan perasaan yang tak nyaman dan dia (sebenarnya) ingin mengambil langkah seribu.

Sikap dan gerak tangan. Tangan akan sangat berperan membantu menegaskan maksud dan tujuan yang akan disampaikan sipembicara. Mereka akan menggerak-gerakkan tangan di udara. Tapi tak begitu bila dia sedang berdusta.

Orang yan berdusta biasanya akan menyebunyikan tangan dibalik kantong celana, mendekapkan atau mengepalkan kedua telapaknya. Atau, aktif menyentuh-nyentuh area seputar wajah, dari hidung, dagu bahkan juga kuping.

Gerak mata. Konon, mata lebih jujur dari mulut dan hati seseorang. Lewat indera yang satu ini, kita bisa menggali rahasia seseorang. Orang yang sedang berdusta biasanya menghindari tatapan mata langsung.

Saat berbohong, kedua pupil mata umumnya menjelajah ke mana-mana, ke atas, ke bawah, ke samping. Pokoknya menghindari tatapan langsung lawan bicara yang tengah dibohongi.

Tekanan suara. Rangkaian kata-kata dalam kalimat sudah pasti menjadi the best liars of all. Nggak heran banyak orang tertipu melalui telepon, karena percaya dengan kata-kata dan rayuan yang meyakinkan.

Orang yang sedang berbohong biasanya sedikit bicara. Kalaupun bicara, banyak kalimat yang nggak nyambung, yang berusaha dikoreksinya. Intonasi bicara mereka umumnya menggantung atau ngambang.

PERSAHABATAN….

•April 26, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar


Apa yang kita alami demi teman kadang-kadang melelahkan
dan menjengkelkan, tetapi itulah yang membuat persahabatan
mempunyai nilai yang indah.

Persahabatan sering menyuguh kan beberapa cobaan, tetapi
persahabatan sejati bisa mengatasi cobaan itu bahkan
tumbuh bersama karenanya… Persahabatan tidak terjalin
secara otomatis tetapi membutuhkan proses yang panjang
seperti besi menajamkan besi, demikianlah sahabat
menajamkan sahabatnya. Persahabatan diwarnai dengan
berbagai pengalaman suka dan duka, dihibur-disakiti,
diperhatikan-dikecewakan, didengar-diabaikan,
dibantu-ditolak, namun semua ini tidak pernah sengaja
dilakukan dengan tujuan kebencian.

Seorang sahabat tidak akan menyembunyikan kesalahan untuk
menghindari perselisihan, justru karena kasihnya ia
memberanikan diri menegur apa adanya. Sahabat tidak pernah
membungkus pukulan dengan ciuman, tetapi menyatakan apa
yang amat menyakitkan dengan tujuan sahabatnya mau
berubah. Proses dari teman menjadi sahabat membutuhkan
usaha pemeliharaan
dari kesetiaan, tetapi  bukan pada saat kita membutuhkan
bantuan barulah kita memiliki motivasi mencari perhatian,
pertolongan dan pernyataaan kasih dari orang lain, tetapi
justru ia berinisiatif memberikan dan mewujudkan apa yang
dibutuhkan oleh sahabatnya. Kerinduannya adalah menjadi
bagian dari kehidupan sahabatnya, karena tidak ada
persahabatan yang diawali dengan sikap egoistis. Semua
orang pasti membutuhkan sahabat sejati, namun tidak semua
orang berhasil mendapatkannya. Banyak pula orang yang
telah menikmati indahnya persahabatan, namun ada juga yang
begitu hancur karena dikhianati sahabatnya.

Ingatlah kapan terakhir kali anda berada dalam kesulitan.
Siapa yang berada di samping anda ?? Siapa yang mengasihi
anda saat anda merasa tidak dicintai?? Siapa yang ingin
bersama anda saat anda tak bisa memberikan apa-apa??

MEREKALAH SAHABAT ANDA Hargai dan peliharalah selalu
persahabatan anda dengan mereka. Persahabatan itu
anugerah, persahabatan itu persaudaraan sesama insane,
persahabatan itu terjalin apabila terjadinya pertemuan,
persahabatan itu adalah persaudaraan yang akrab atas
dasar-dasar ketulusan, keikhlasan, kejujuran dan arti
persahabatan yang tulus suci berpaksikan keimanan dan
persahabatan itu adalah amanah seorang sahabat di dalam menjalinkan persahabatan.
Dalam masa kejayaan, teman-teman mengenal kita. Dalam
kesengsaraan, kita mengenal teman-teman kita

Kekuatan Cinta

•April 26, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

Erich fromm, murid kesayangannya Sigmund Freud menyebutkan empat unsur yang harus ada dalam cinta, yaitu :

  1. Care (perhatian). Cinta harus melahirkan perhatian pada objek yang dicintai. Kalau kita mencintai diri sendiri, maka kita akan memperhatikan kesehatan dan kebersihan diri. Kalau kita mencintai orang lain, maka kita akan memperhatikan kesulitan yang dihadapi orang tersebut dan akan berusaha meringankan bebannya. Kalau kita mencintai Allah Swt., maka kita akan memperhatikan apa saja yang Allah ridhai dan yang dimurkai-Nya.
  2. Responsibility (tanggung jawab). Cinta harus melahirkan sikap bertanggungjawab terhadap objek yang dicintai. Orang tua yang mencintai anaknya, akan bertanggung jawab akan kesejahteraan material, spiritual dan masa depan anaknya. Suami yang mencintai isterinya, akan bertanggung jawab akan kesejahteraan dan kebahagiaan rumah tangganya. Karyawan yang mencintai perusahaannya, akan bertanggung jawab akan kemajuan perusahaannya. Orang yang mencintai Tuhannya, akan bertanggung jawab untuk melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Itulah Responsibility.
  3. Respect (hormat). Cinta harus melahirkan sikap menerima apa adanya objek yang dicintai, kelebihannya kita syukuri, kekurangannya kita terima dan perbaiki. Tidak bersikap sewenang-wenang dan selalu berikhtiar agar tidak mengecewakannya. Inilah yang disebut respect.
  4. Knowledge (pengetahuan). Cinta harus melahirkan minat untuk memahami seluk beluk objek yang dicintai. Kalau kita mencintai seorang wanita atau pria untuk dijadikan isteri atau suami, maka kita harus berusaha memahami kepribadian, latar belakang keluarga, minat, dan ketaatan beragamanya. Kalau kita mencintai Tuhan, maka harus berusaha memahami ajaran-ajaran-Nya.